Memiliki rasa bangga terhadap suatu komunitas dimana kita berada merupakan hal yang sangat penting. Rasa ini dapat membawa seluruh sikap kita untuk menunjukkan keunggulan komunitas tersebut. Oleh sebab itu, sangatlah penting bagi suatu organisasi, terlebih seluruh pemimpin untuk membuat anggota tim merasa bangga terhadap tim atau organisasi (komunitas) tempat mereka berada. Akan tetapi, jauh lebih dari itu, akan lebih baik jika seluruh anggota tim bisa saling mengembangkan rasa bangga satu sama lain.

Banyak sekali artikel yang membahas mengenai teknik-teknik dalam menumbuhkan dan mengembangkan rasa bangga ini. Dalam tulisan ini, saya akan membahas 2 (dua) hal (yang menurut saya) penting harus dimiliki oleh kita sebagai bagian dari tim (dalam hal ini Abhatians). Yang pertama adalah Respect Others (menghargai orang lain). Respect Others merupakan kalimat yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan anak saya yang saat ini duduk di kelas 1 (satu) SD pun sudah belajar kata ini dan menjadikannya peraturan penting di kelasnya. Sesuai dengan value pertama kita, menghargai orang lain adalah bentuk dari Value pertama (Integrity dan Transparency). Bagaimana bentuk nyata dari menghargai orang lain? Saya mengajak kita semua untuk fokus pada 2 (dua) hal yakni mendengarkan dan memberikan kesempatan kepada orang lain. Mungkin ada yang merasa bahwa kedua hal ini mudah, tapi banyak juga yang merasa kedua hal ini sulit dilakukan.

Mendengarkan dan memberikan kesempatan pada orang lain merupakan perilaku yang menunjukkan bahwa kita berhasil mengalahkan ego pribadi dan mulai menaruh perhatian pada orang lain. Dengan kata lain, kita mencoba untuk lebih rendah hati. Dalam keseharian, kita cenderung fokus pada mau kita tanpa melihat sudut pandang orang lain. Dengan melakukan kedua perilaku itu, orang lain merasa “dianggap” atau “di-wongk-e (dalam bahasa jawa).” Hal ini sangat sesuai dengan pendapat seorang tokoh (Abraham Maslow), bahwa 2 (dua) kebutuhan manusia tertinggi adalah kebutuhan akan penghargaan dan aktualisasi diri. Ketika kita mendengarkan dan memberikan kesempatan kepada orang lain, secara langsung itu terkait dengan kedua kebutuhan tersebut. Bahkan kita pun juga membutuhkan kedua hal tersebut dari orang lain.

Hal kedua yang harus kita lakukan adalah menggunakan Positive Words (kata-kata yang positif). Banyak orang yang merasa bahwa memilih kata merupakan hal yang kurang penting dan yang terpenting adalah mereka menyampaikan apa yang dirasakan atau dipikirkan. Apakah benar demikian? Menurut saya, hal ini tergantung dari kondisi atau tujuan kita menyampaikan kalimat tersebut. Dalam konteks dimana kita ingin menumbuhkan rasa bangga akan tim, maka kita perlu memikirkan mengenai setiap kata atau kalimat yang ingin kita ucapkan.

Ada pepatah yang menyebutkan bahwa “kata yang diucapkan adalah doa.” Sementara itu, para tokoh Positive Psychology menyatakan bahwa kata yang kita ucapakan dapat memanggil karakter yang ada di dalam diri seseorang. Oleh sebab itu, ketika kita ingin menegur seseorang, maka panggilah karakter positif dalam diri orang itu dengan kata atau kalimat yang positif juga. Hal ini akan membuat orang tersebut merasa bahwa ia memiliki karakter yang positif tersebut. Anda masih ragu? Silahkan dicoba dan raih hasilnya! Yang perlu diingat adalah lakukan secara konsisten pada orang yang tepat.

Sebagai bagian dari Abhatians, saya merasa banyak dari kita (termasuk para pemimpin) yang sangat berusaha untuk melakukan kedua hal tersebut. Di setiap kesempatan dan training, para pemimpin perusahaan sering mengingatkan kita untuk melakukan hal ini. Namun, ketika hal ini belum berjalan sempurna, perlu diingat bahwa semua orang berproses menjadi pribadi yang lebih baik. Oleh sebab itu, sangat penting untuk kita saling mengingatkan dan mendukung, baik terhadap rekan kerja, bawahan, bahkan kepada atasan kita.

(Yessita Suseno, Nov 2018)